Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara yang unik.
Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,00.- ia bertanya kepada hadirin, "Siapa
yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat.
"Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya
perkenankanlah saya melakukan ini."
Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai
berlipat2. Lalu bertanya lagi,"Siapa yang masih mau uang ini?" Jumlah tangan yang
teracung tak berkurang.
"Baiklah," jawabnya, "Apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil
menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak2nya dengan sepatunya. Meski masih utuh,
kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.
"Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih
tetap banyak.
"Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apapun yang
terjadi dengan uang ini, anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan
mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp.
100.000,00.-
Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan
kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi
seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti.
Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai
di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan.
Jangan pernah lupa - Anda spesial...!!!
Jumat, 01 Oktober 2010
Tidak semua yang kita inginkan itu baik bagi kita..
Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.
Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang
ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat.
Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot.. Namun, sesuatu pun
terjadilah.
Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan
51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru.
Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat
lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos.
Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan ! Aku lolos
penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku. Selama
beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA
mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan
berdoa lagi.! Aku tahu aku semakin dekat pada impianku.
Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program
latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.
Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari
100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji
klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara
kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?
Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa..
Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina
McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.
Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku
mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan ?!
Kenapa bukan aku ?! Bagian diriku yang mana yang kurang ?! Mengapa aku
diperlakukan kejam ?!
Aku berpaling pada ayahku. Katanya, "Semua terjadi karena suatu alasan.."
Selasa, 28 Jan! uari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat
peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara
landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku
bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat
itu. Kenapa bukan aku ?!
Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan
menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua
penumpang.
Aku teringat kata-kata ayahku, "Semua terjadi karena suatu alasan.."
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat
menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di
bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang
pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk
bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.
Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang
ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat.
Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot.. Namun, sesuatu pun
terjadilah.
Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan
51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru.
Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat
lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos.
Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan ! Aku lolos
penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku. Selama
beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA
mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan
berdoa lagi.! Aku tahu aku semakin dekat pada impianku.
Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program
latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.
Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari
100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji
klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara
kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?
Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa..
Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina
McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.
Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku
mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan ?!
Kenapa bukan aku ?! Bagian diriku yang mana yang kurang ?! Mengapa aku
diperlakukan kejam ?!
Aku berpaling pada ayahku. Katanya, "Semua terjadi karena suatu alasan.."
Selasa, 28 Jan! uari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat
peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara
landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku
bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat
itu. Kenapa bukan aku ?!
Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan
menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua
penumpang.
Aku teringat kata-kata ayahku, "Semua terjadi karena suatu alasan.."
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat
menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di
bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang
pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk
bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.
SENYUMANKU SAHABATMU
> > > Tahukah kamu bahwa senyum itu menular?
> > > Menerimanya seperti terjangkit flu.
> > > Hari ini seseorang tersenyum padaku,
> > > dan aku balas tersenyum juga.
> > > Di pojok ruangan seseorang melihatku tersenyum
> > > dan ia mulai tersenyum pula.
> > > Aku jadi sadar bahwa senyum dapat ditularkan.
> > > Lalu aku memikirkan dan mengukur senyumku.
> > > Senyum yang unik, seperti senyumku,
> > > dapat menyebar ke seluruh dunia.
> > > Jadi, kalau kamu merasa ingin tersenyum,
> > > janganlah berusaha menghentikannya.
> > > Marilah kita mulai menyebarkan wabah senyum
> > sekarang juga,
> > > hingga mempengaruhi seluruh dunia!
> > > Tetaplah tersenyum pada para teman dan sahabatmu.
> > > Lagi pula, bukankah setiap orang membutuhkan
> > senyum?!!!
> > > Bersahabatlah dengan senyum,
> > > maka senyum akan menjadi sahabatmu....
> > >
> > > Ha..ha..ha..
> > >
> > > cheers
> > > Menerimanya seperti terjangkit flu.
> > > Hari ini seseorang tersenyum padaku,
> > > dan aku balas tersenyum juga.
> > > Di pojok ruangan seseorang melihatku tersenyum
> > > dan ia mulai tersenyum pula.
> > > Aku jadi sadar bahwa senyum dapat ditularkan.
> > > Lalu aku memikirkan dan mengukur senyumku.
> > > Senyum yang unik, seperti senyumku,
> > > dapat menyebar ke seluruh dunia.
> > > Jadi, kalau kamu merasa ingin tersenyum,
> > > janganlah berusaha menghentikannya.
> > > Marilah kita mulai menyebarkan wabah senyum
> > sekarang juga,
> > > hingga mempengaruhi seluruh dunia!
> > > Tetaplah tersenyum pada para teman dan sahabatmu.
> > > Lagi pula, bukankah setiap orang membutuhkan
> > senyum?!!!
> > > Bersahabatlah dengan senyum,
> > > maka senyum akan menjadi sahabatmu....
> > >
> > > Ha..ha..ha..
> > >
> > > cheers
Saat Jodoh Tak Kunjung Datang Barangkali,Kitalah Penyebabnya
Menjelang tengah malam, seorang ikhwan mengirim SMS
kepada saya. Dia seorang aktivis yang amat banyak
menghabiskan waktunya untuk menyebarkan kebaikan. Bila
berbicara dengannya, kesan yang tampak adalah semangat
yang besar di dadannya untuk melakukan perbaikan.
Kalau saat ini yang mampu dilakukan masih amat kecil,
tak apa-apa. Sebab perubahan yang besar takkan terjadi
bila kita tidak mau memulai dari yang kecil. Tetapi
kali ini, ia berkirim SMS bukan untuk berbagi
semangat. Ia kirimkan SMS karena ingin meringankan
beban yang hampir ada kerinduan yang semakin berambah
untuk memiliki pendamping yang dapat menyayanginya
sepenuh hati.
SMS ini mengingatkan saya pada beberapa kasus lainnya.
Usia sudah melewati tiga puluh, tetapi belum juga ada
tempat untuk menambatkan rindu. Seorang pria usia
sekitar 40 tahun, memiliki karier yang cukup sukses,
merasakan betapa sepinya hidup tanpa istri. Ingin
menikah, tapi takut ! tak bisa mempergauli istrinya
dengan baik. Sementara terus melajang merupakan
siksaan yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu ia ingin
menikah, ketika keriernya belum seberapa. Tetapi niat
itu dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia
harus mengumpulkan dulu uang yang cukup banyak agar
bisa menyenangkan istri. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu
letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat
yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa
bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan
menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata
hati, memantapkan tujuan dan meluruskan niat. Bila
engkau ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga
pandangan, tak bisa engkau meraihnya dengan, 'Hai,
cowok... Godain kita, dong.'
Saya teringat dengan sabda Nabi Saw. (tapi ini bukan
tentang nikah). Beliau berkata, 'Ruh itu seperti
pasukan tentara yang berbaris.'
Bila bertemu dengan yang serupa dengannya, ia akan
mudah mengenali, mudah juga bergabung dan bersatu. Ia
tak bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu
dengan sederhana, sementara engkau jadikan gemerlap
kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin
engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai
pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan suami
yang menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di
hatinya kecuali kepadamu; sementara engkau berusaha
meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat
oleh pernikahan? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan
lelaki yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan
menggoda?
Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat
ingin meraih pernikahan yang diridhai tak jarang
kerana kita sendiri mempersulitnya. Suatu saat seorang
perempuan memerlukan perhatian dan kasih-sayang
seorang suami, ia tidak mendapatkannya. Di saat ia
merindukan hadirnya seorang anak yang ia kandung
sendiri dengan rahimnya, tak ada suami yang
menghampirinya. Padahal kecantikan telah ia miliki.
Apalagi dengan penampilannya yang enak dipandang.
Begitupun uang, tak ada lagi kekhawatiran pada
dirinya. Jabatannya yang cukup mapan di perusahaan
memungkinkan ia untuk membeli apa saja, kecuali
kasih-sayang suami.
Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah
beberapa kali ada yang mau serius dengannya, tetapi
demi karir yang diimpikan, ia menolak semua ajakan
serius. Kalau kemudian ada hubungan perasaan dengan
seseorang, itu sebatas pacaran. Tak lebih. Sampai
karier yang diimpikan tercapai; sampai ia tiba-tiba
tersadar bahwa usianya sudah tidak terlalu muda lagi;
sampai ia merasakan sepinya hidup tanpa suami,
sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius
dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka.
Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang
mau serius dengannya sangat sulit. Sama sulitnya
menaklukkan hatinya ketika ia muda dulu.
Masih banyak cerita-cerita sedih semacam itu. Mereka
menunda pernikahan di saat Allah memberi kemudahan.
Mereka enggan melaksanakannya ketika Allah masih
memberinya kesempatan karena alasan belum bisa
menyelenggarakan walimah yang 'wah'. Mereka tetap
mengelak, meski terus ada yang mendesak; baik lewat
sindiran maupun dorongan yang terang-terangan. Meski
ada kerinduan yang tak dapat diingkari, tetapi mereka
menundanya karena masih ingin mengumpulkan biaya atau
mengejar karier. Ada yang menampik 'alasan karier'
walau sebenarnya tak jauh berbeda. Seorang akhwat
menunda nikah mesti ada yang mengkhitbah karena ingin
meraih kesempatan kuliah S-2 ('Tahun depan kan belum
tentu ada beasiswa'). Ia mendahulukan pra-sangka bahwa
kesempatan kuliah S-2 tak akan datang dua kali, lalu
mengorbankan pernikahan yang Rasullah Saw. Telah
memperingatkan:
"Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk
meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan
akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau
lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan
akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi."
(HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).
Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah
yang digariskan oleh Allah. Ketika orang mempersulit
apa yang dimudahkan oleh Allah, mereka akhirnya
benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris
tak menemukan jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda
pernikahan tanpa ada alasan syar'i, dan akhirnya
mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah
sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah
benar-benar gelisah, tetapi tak kunjung ada yang mau
serius dengannya.
Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus belanjut.
Bila di usia-usia dua puluh tahunan mereka menunda
nikah karena takut dengan ekonominya yang belum mapan,
di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh
lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering
mengalami sindrom kemapanan (meski wanita juga banyak
yang demikian, terutama mendekati usia 30 tahun).
Mereka menginginkan pendamping dengan kriteria yang
sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak
kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu
pula dengan kriteria tentang jodoh, ketika kita
menetapkan kriteria yang terlalu banyak, akhirnya
bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan kita.
Sementara wanita yang sudah berusia sekitar 35 tahun,
masalah mereka bukan soal kriteria, tetapi soal apakah
ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia
40-an, ketakutan yang dialami oleh laki-laki sudah
berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga
hatinya. Jika sebelumnya, banyak kriteria yang
dipasang, pada usia 40-an muncul ketakutan apakah
dapat mendampingi istri dengan baik. Lebih lebih
ketika usia sudah beranjak mendekati 50 tahun, ada
ketakutan lain yang mencekam. Ada kekhawatiran
jangan-jangan di saat anak masih kecil, ia sudah tak
sanggup lagi mencari nafkah. Atau ketika masalah
nafkah tak merisaukan (karena tabungan yang melimpah),
jangan-jangan ia sudah mati ketika anak-anak masih
perlu banyak dinasehati. Bila tak ada iman di hati,
ketakutan ini akhirnya melahirkan keputus-asaan.
Wallahu A'lam bishawab.
Ya... ya... ya..., kadang kita sendirilah penyebabnya,
kita mempersulit apa yang telah Allah mudahkan,
sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak
terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan,
sehingga kita terbelit oleh kerumitan yang tak
berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada
dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam
keluh-kesah yang berkepanjangan.
Maka, kalau kesulitan itu kita sendiri penyebabnya,
beristighfarlah. Semoga Allah berkenan melapangkan
jalan kita dan memudahkan urusan kita.
Laa ilaaha illa Anta, subhanaka inni kuntu
minazh-zhalimin.
Berkenaan dengan sikap mempersulit, ada
tingkat-tingkatannya. Seorang menolak untuk menikah
boleh jadi karena matanya disilaukan oleh dunia,
sementara agama ia tak mengerti. Belum sampai
kepadanya pemahaman agama. Boleh jadi seorang
menunda-nunda nikah karena yang datang kepadanya beda
harakah, meskipun tak ada yang patut dicela dari agama
dan akhlaknya. Boleh jadi ada di antara kita yang
belum bisa meresapi keutamaan menyegerakan nikah,
sehingga ia tak kunjung melakukannya. Boleh jadi pula
ia sangat memahami benar pentingnya bersegera menikah,
sudah ada kesiapan psikis maupun ilmu, telah datang
kesempatan dari Allah, tetapi... sukunya berbeda, atau
sebab-sebab lain yang sama sepelenya.
Ada Yang Tak Bisa Kita Ingkari
Kadang ada perasaan kepada seseorang. Seperti Mughits
--seorang sahabat Nabi Saw-- kita selalu menguntit
kemana pun Barirah melangkah. Mata kita mengawasi,
hati kita mencari-cari dan telinga kita merasa indah
setiap kali mendengar namanya. Perasaan itu begitu
kuat bersemayan di dada. Bukan karena kita
menenggelamkan diri dalam lautan perasaan, tetapi
seperti kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengutip dari
Al-Madaa'iny,
"Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu
aku tidak akan memilih jatuh cinta."
Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak
sanggup berpikir jernih lagi. Kadang membuat kita
banyak berharap, sehingga mengabaikan setiap kali ada
yang mau serius. Kita sibuk menanti --kadang sampai
membuat badan kita kurus kering-- sampai batas waktu
yang kita sendiri tak berani menentukan. Kita merasa
yakin bahwa dia jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh
kita harus dia, tetapi tak ada langkah-langkah pasti
yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh
angan-angan.
Persoalannya, apakah yang mesti kita perbuat ketika
rasa sayang itu ada?
kepada saya. Dia seorang aktivis yang amat banyak
menghabiskan waktunya untuk menyebarkan kebaikan. Bila
berbicara dengannya, kesan yang tampak adalah semangat
yang besar di dadannya untuk melakukan perbaikan.
Kalau saat ini yang mampu dilakukan masih amat kecil,
tak apa-apa. Sebab perubahan yang besar takkan terjadi
bila kita tidak mau memulai dari yang kecil. Tetapi
kali ini, ia berkirim SMS bukan untuk berbagi
semangat. Ia kirimkan SMS karena ingin meringankan
beban yang hampir ada kerinduan yang semakin berambah
untuk memiliki pendamping yang dapat menyayanginya
sepenuh hati.
SMS ini mengingatkan saya pada beberapa kasus lainnya.
Usia sudah melewati tiga puluh, tetapi belum juga ada
tempat untuk menambatkan rindu. Seorang pria usia
sekitar 40 tahun, memiliki karier yang cukup sukses,
merasakan betapa sepinya hidup tanpa istri. Ingin
menikah, tapi takut ! tak bisa mempergauli istrinya
dengan baik. Sementara terus melajang merupakan
siksaan yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu ia ingin
menikah, ketika keriernya belum seberapa. Tetapi niat
itu dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia
harus mengumpulkan dulu uang yang cukup banyak agar
bisa menyenangkan istri. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu
letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat
yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa
bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan
menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata
hati, memantapkan tujuan dan meluruskan niat. Bila
engkau ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga
pandangan, tak bisa engkau meraihnya dengan, 'Hai,
cowok... Godain kita, dong.'
Saya teringat dengan sabda Nabi Saw. (tapi ini bukan
tentang nikah). Beliau berkata, 'Ruh itu seperti
pasukan tentara yang berbaris.'
Bila bertemu dengan yang serupa dengannya, ia akan
mudah mengenali, mudah juga bergabung dan bersatu. Ia
tak bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu
dengan sederhana, sementara engkau jadikan gemerlap
kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin
engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai
pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan suami
yang menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di
hatinya kecuali kepadamu; sementara engkau berusaha
meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat
oleh pernikahan? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan
lelaki yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan
menggoda?
Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat
ingin meraih pernikahan yang diridhai tak jarang
kerana kita sendiri mempersulitnya. Suatu saat seorang
perempuan memerlukan perhatian dan kasih-sayang
seorang suami, ia tidak mendapatkannya. Di saat ia
merindukan hadirnya seorang anak yang ia kandung
sendiri dengan rahimnya, tak ada suami yang
menghampirinya. Padahal kecantikan telah ia miliki.
Apalagi dengan penampilannya yang enak dipandang.
Begitupun uang, tak ada lagi kekhawatiran pada
dirinya. Jabatannya yang cukup mapan di perusahaan
memungkinkan ia untuk membeli apa saja, kecuali
kasih-sayang suami.
Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah
beberapa kali ada yang mau serius dengannya, tetapi
demi karir yang diimpikan, ia menolak semua ajakan
serius. Kalau kemudian ada hubungan perasaan dengan
seseorang, itu sebatas pacaran. Tak lebih. Sampai
karier yang diimpikan tercapai; sampai ia tiba-tiba
tersadar bahwa usianya sudah tidak terlalu muda lagi;
sampai ia merasakan sepinya hidup tanpa suami,
sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius
dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka.
Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang
mau serius dengannya sangat sulit. Sama sulitnya
menaklukkan hatinya ketika ia muda dulu.
Masih banyak cerita-cerita sedih semacam itu. Mereka
menunda pernikahan di saat Allah memberi kemudahan.
Mereka enggan melaksanakannya ketika Allah masih
memberinya kesempatan karena alasan belum bisa
menyelenggarakan walimah yang 'wah'. Mereka tetap
mengelak, meski terus ada yang mendesak; baik lewat
sindiran maupun dorongan yang terang-terangan. Meski
ada kerinduan yang tak dapat diingkari, tetapi mereka
menundanya karena masih ingin mengumpulkan biaya atau
mengejar karier. Ada yang menampik 'alasan karier'
walau sebenarnya tak jauh berbeda. Seorang akhwat
menunda nikah mesti ada yang mengkhitbah karena ingin
meraih kesempatan kuliah S-2 ('Tahun depan kan belum
tentu ada beasiswa'). Ia mendahulukan pra-sangka bahwa
kesempatan kuliah S-2 tak akan datang dua kali, lalu
mengorbankan pernikahan yang Rasullah Saw. Telah
memperingatkan:
"Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk
meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan
akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau
lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan
akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi."
(HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).
Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah
yang digariskan oleh Allah. Ketika orang mempersulit
apa yang dimudahkan oleh Allah, mereka akhirnya
benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris
tak menemukan jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda
pernikahan tanpa ada alasan syar'i, dan akhirnya
mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah
sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah
benar-benar gelisah, tetapi tak kunjung ada yang mau
serius dengannya.
Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus belanjut.
Bila di usia-usia dua puluh tahunan mereka menunda
nikah karena takut dengan ekonominya yang belum mapan,
di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh
lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering
mengalami sindrom kemapanan (meski wanita juga banyak
yang demikian, terutama mendekati usia 30 tahun).
Mereka menginginkan pendamping dengan kriteria yang
sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak
kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu
pula dengan kriteria tentang jodoh, ketika kita
menetapkan kriteria yang terlalu banyak, akhirnya
bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan kita.
Sementara wanita yang sudah berusia sekitar 35 tahun,
masalah mereka bukan soal kriteria, tetapi soal apakah
ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia
40-an, ketakutan yang dialami oleh laki-laki sudah
berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga
hatinya. Jika sebelumnya, banyak kriteria yang
dipasang, pada usia 40-an muncul ketakutan apakah
dapat mendampingi istri dengan baik. Lebih lebih
ketika usia sudah beranjak mendekati 50 tahun, ada
ketakutan lain yang mencekam. Ada kekhawatiran
jangan-jangan di saat anak masih kecil, ia sudah tak
sanggup lagi mencari nafkah. Atau ketika masalah
nafkah tak merisaukan (karena tabungan yang melimpah),
jangan-jangan ia sudah mati ketika anak-anak masih
perlu banyak dinasehati. Bila tak ada iman di hati,
ketakutan ini akhirnya melahirkan keputus-asaan.
Wallahu A'lam bishawab.
Ya... ya... ya..., kadang kita sendirilah penyebabnya,
kita mempersulit apa yang telah Allah mudahkan,
sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak
terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan,
sehingga kita terbelit oleh kerumitan yang tak
berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada
dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam
keluh-kesah yang berkepanjangan.
Maka, kalau kesulitan itu kita sendiri penyebabnya,
beristighfarlah. Semoga Allah berkenan melapangkan
jalan kita dan memudahkan urusan kita.
Laa ilaaha illa Anta, subhanaka inni kuntu
minazh-zhalimin.
Berkenaan dengan sikap mempersulit, ada
tingkat-tingkatannya. Seorang menolak untuk menikah
boleh jadi karena matanya disilaukan oleh dunia,
sementara agama ia tak mengerti. Belum sampai
kepadanya pemahaman agama. Boleh jadi seorang
menunda-nunda nikah karena yang datang kepadanya beda
harakah, meskipun tak ada yang patut dicela dari agama
dan akhlaknya. Boleh jadi ada di antara kita yang
belum bisa meresapi keutamaan menyegerakan nikah,
sehingga ia tak kunjung melakukannya. Boleh jadi pula
ia sangat memahami benar pentingnya bersegera menikah,
sudah ada kesiapan psikis maupun ilmu, telah datang
kesempatan dari Allah, tetapi... sukunya berbeda, atau
sebab-sebab lain yang sama sepelenya.
Ada Yang Tak Bisa Kita Ingkari
Kadang ada perasaan kepada seseorang. Seperti Mughits
--seorang sahabat Nabi Saw-- kita selalu menguntit
kemana pun Barirah melangkah. Mata kita mengawasi,
hati kita mencari-cari dan telinga kita merasa indah
setiap kali mendengar namanya. Perasaan itu begitu
kuat bersemayan di dada. Bukan karena kita
menenggelamkan diri dalam lautan perasaan, tetapi
seperti kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengutip dari
Al-Madaa'iny,
"Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu
aku tidak akan memilih jatuh cinta."
Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak
sanggup berpikir jernih lagi. Kadang membuat kita
banyak berharap, sehingga mengabaikan setiap kali ada
yang mau serius. Kita sibuk menanti --kadang sampai
membuat badan kita kurus kering-- sampai batas waktu
yang kita sendiri tak berani menentukan. Kita merasa
yakin bahwa dia jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh
kita harus dia, tetapi tak ada langkah-langkah pasti
yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh
angan-angan.
Persoalannya, apakah yang mesti kita perbuat ketika
rasa sayang itu ada?
Meskipun Aku tak Mengenalmu
Sudah tak terhitung aku lewat di jalan itu. Tak terhitung,
karena aku memang tak perlu menghitung. Tak perlu kuhitung
karena cuma itulah jalanku, karena di situlah memang jalan
menuju rumahku. Dan jika aku hendak pulang, cuma jalan
itulah yang bisa membawaku. Maka ke manapun aku hendak
pergi, dari manakah aku ingin pulang, cuma jalan itulah
jalanku.
Tapi meskipun jalanku cuma itu melulu, tak semua yang
tinggal di jalan itu mengenalku. Tapi meksipun tidak
saling kenal, kami pasti saling tahu, karena begitu
seringnya kami ketemu. Mereka tau patsi bentukku, bentuk
kendaraanku. Aku jadi tahu persis, ada sebuah keluarga,
yang pada jam-jam tertentu baru berangkat kerja. Mobilnya
bahkan sering harus maju mundur sedemikian lama, karena
sempitlah halamannya, seperti halamanku. Aku tahu persis,
ada jenis keluarga yang jika sore menjelang, gemar
bersantai di depan rumah, sambil menyita jalan gang.
Aku tahu persis di rumah yang lain lagi, tentang
anak-anaknya yang banyak dan gaduh. Anak-anak seperti tak
kenal masa lelah. Pulang sekolah sudah kedapatan naik
sepeda dan kebut-kebutan tanpa kenal bahaya. Di rumah yang
lain lagi, ada keluarga yang memakai separo jalan utuk
berjualan. Ramai sekali. Di sisi yang lain, ketika malam
menjelang, sekumpulan bapak-napak rajin berkumpul dan
berbincang sambil memajang bangku panjang di tepi jalan.
Entah pagi, siang dan malam hari, aku hampir mengenal
irama jalan itu, karena setiap kali aku memang cuma bisa
lewat jalan itu, jika hendak pulang ke rumahku.
Aku tak mengenal orang-orang yang aku ceritakan itu. Aku
hanya setiap kali bertemu. Tapi siapapun mereka, betapapun
aku tak mengenalnya, aku selalu bertegur sapa. Tidak
dengan kata-kata, cukup dengan berhenti dan menunggu
ketiak mobil orang itu maju dan mundur begitu lama, karena
sempitnya halaman rumahnya. Aku menunggunya, sampai mobil
itu menemeukan jalan.
Jika aku melewati jalan yang tersita untuk berjualan itu,
aku akan memelankan kendaraan. Tak kubutuhkan klakson
meskipun para pembeli berkerumun, parkir sembarangan dan
memapatkan jalan. Aku cukup berhenti dan menunggu, sampai
sorang-orang itu menyingkirkan sendiri kendaraannya yang
diparkir serampangan.
Jika aku lewat di depan rumah anak-anak yang gaduh itu aku
siap menginjak rema kapan saja, tanpa menunggu mereka ada
atau tak ada, tengah bersepeda atau tengah perang-perangan
di jalanan. Tak peduli apapun perbuatan mereka, aku cukup
bersiaga. Maka ketika anak itu benar-benar ngebut dan
hampir saja menabrakku, ibu anak itu sendirilah yang
tergopoh-gopoh, menjewer telinganya dan meminta maaf
kepadaku.
Jika malam menjelang dan kerumunan bapak-bapak yang
ngobrol itu menghadangku, aku buru-buru mematikan lampu.
Menyalakan lagi ketika kerumunan itu telah kulewati.
Begitu selalu sikapku setiap melewati jalan itu.
Bertahun-tahun kulakukan kebiasaan itu karena memang cuma
di situ jalanku, di situ rumahku.
Kebiasan ini bukan karena aku adalah manusia baik hati,
melainkan karena tuntutan kewajaran belaka: jika ada orang
lain buru-buru, mengalahlah. Jika jalanan sesak,
bersabarlah, jika pihak lain sedang ngebut, pelanlah, jika
lampumu bikin silau, matikanlah. Rumus ini jelas serupa
dengan jika engkau haus minumlah, jika engkau lapar
tidurlah, jika engkau sakt, mengaduhlah. Jadi tidak
dibutuhkan orang-orang baik hati untuk bisa melakukan
kebiasaan ini.
Jadi, selama ini aku cuma menjalankan ewajaran. Tapi cuma
karena kewajaran ini pun hasilnya amat mengagetkan, karena
orang-orang di sekujur jalan itu, hampir semuanya bersikap
ramah kepadaku, tanpa mereka harus mengenalku. Baru
bertingkah wajar saja sudah begini banyak temanku, apalagi
jika aku adalah orang yang dermawan.
karena aku memang tak perlu menghitung. Tak perlu kuhitung
karena cuma itulah jalanku, karena di situlah memang jalan
menuju rumahku. Dan jika aku hendak pulang, cuma jalan
itulah yang bisa membawaku. Maka ke manapun aku hendak
pergi, dari manakah aku ingin pulang, cuma jalan itulah
jalanku.
Tapi meskipun jalanku cuma itu melulu, tak semua yang
tinggal di jalan itu mengenalku. Tapi meksipun tidak
saling kenal, kami pasti saling tahu, karena begitu
seringnya kami ketemu. Mereka tau patsi bentukku, bentuk
kendaraanku. Aku jadi tahu persis, ada sebuah keluarga,
yang pada jam-jam tertentu baru berangkat kerja. Mobilnya
bahkan sering harus maju mundur sedemikian lama, karena
sempitlah halamannya, seperti halamanku. Aku tahu persis,
ada jenis keluarga yang jika sore menjelang, gemar
bersantai di depan rumah, sambil menyita jalan gang.
Aku tahu persis di rumah yang lain lagi, tentang
anak-anaknya yang banyak dan gaduh. Anak-anak seperti tak
kenal masa lelah. Pulang sekolah sudah kedapatan naik
sepeda dan kebut-kebutan tanpa kenal bahaya. Di rumah yang
lain lagi, ada keluarga yang memakai separo jalan utuk
berjualan. Ramai sekali. Di sisi yang lain, ketika malam
menjelang, sekumpulan bapak-napak rajin berkumpul dan
berbincang sambil memajang bangku panjang di tepi jalan.
Entah pagi, siang dan malam hari, aku hampir mengenal
irama jalan itu, karena setiap kali aku memang cuma bisa
lewat jalan itu, jika hendak pulang ke rumahku.
Aku tak mengenal orang-orang yang aku ceritakan itu. Aku
hanya setiap kali bertemu. Tapi siapapun mereka, betapapun
aku tak mengenalnya, aku selalu bertegur sapa. Tidak
dengan kata-kata, cukup dengan berhenti dan menunggu
ketiak mobil orang itu maju dan mundur begitu lama, karena
sempitnya halaman rumahnya. Aku menunggunya, sampai mobil
itu menemeukan jalan.
Jika aku melewati jalan yang tersita untuk berjualan itu,
aku akan memelankan kendaraan. Tak kubutuhkan klakson
meskipun para pembeli berkerumun, parkir sembarangan dan
memapatkan jalan. Aku cukup berhenti dan menunggu, sampai
sorang-orang itu menyingkirkan sendiri kendaraannya yang
diparkir serampangan.
Jika aku lewat di depan rumah anak-anak yang gaduh itu aku
siap menginjak rema kapan saja, tanpa menunggu mereka ada
atau tak ada, tengah bersepeda atau tengah perang-perangan
di jalanan. Tak peduli apapun perbuatan mereka, aku cukup
bersiaga. Maka ketika anak itu benar-benar ngebut dan
hampir saja menabrakku, ibu anak itu sendirilah yang
tergopoh-gopoh, menjewer telinganya dan meminta maaf
kepadaku.
Jika malam menjelang dan kerumunan bapak-bapak yang
ngobrol itu menghadangku, aku buru-buru mematikan lampu.
Menyalakan lagi ketika kerumunan itu telah kulewati.
Begitu selalu sikapku setiap melewati jalan itu.
Bertahun-tahun kulakukan kebiasaan itu karena memang cuma
di situ jalanku, di situ rumahku.
Kebiasan ini bukan karena aku adalah manusia baik hati,
melainkan karena tuntutan kewajaran belaka: jika ada orang
lain buru-buru, mengalahlah. Jika jalanan sesak,
bersabarlah, jika pihak lain sedang ngebut, pelanlah, jika
lampumu bikin silau, matikanlah. Rumus ini jelas serupa
dengan jika engkau haus minumlah, jika engkau lapar
tidurlah, jika engkau sakt, mengaduhlah. Jadi tidak
dibutuhkan orang-orang baik hati untuk bisa melakukan
kebiasaan ini.
Jadi, selama ini aku cuma menjalankan ewajaran. Tapi cuma
karena kewajaran ini pun hasilnya amat mengagetkan, karena
orang-orang di sekujur jalan itu, hampir semuanya bersikap
ramah kepadaku, tanpa mereka harus mengenalku. Baru
bertingkah wajar saja sudah begini banyak temanku, apalagi
jika aku adalah orang yang dermawan.
Menertawakan Diri Sendiri
Ini aku dapet dari milis tetangge sebelah ...
Kalau kita mau jujur, sebenarnya banyak hal dari diri kita
yang patut kita tertawakan sendiri.
Sebagai misal: ketika kendaraan kesayangan kita tergores
dan catnya mengelupas, kita jadi sedih dan kecewa.
Semakin dalam kecintaan kita pada kendaraan itu,
semakin dalam kesedihan dan kekecewaan kita.
Ini juga terjadi ketika benda-benda kesayangan kita
yang lain, seperti barang pecah belah, perhiasan atau
barang koleksi yang selama ini kita rawat baik-baik,
ternyata pecah, kusam atau rusak begitu saja.
Kita dapati diri ini jatuh dalam kenelangsaan.
Padahal benda-benda itu sama sekali tak merasakan apa-apa,
justru kita yang harus bersakit-sakit.
Bukankah ini menarik untuk kita tertawakan sendiri?
Semua ini terjadi karena kita meletakkan "diri" kita;
kita mengidentifikasikan "aku" kita pada benda-benda
kesayangan itu. Tanpa sadar kita menganggap benda-benda
itu sebagai diri kita sendiri.
Semakin banyak kita mencintai benda-benda,
semakin terjerat kita pada benda-benda itu,
semakin besar kemungkinan kita mengalami luka
dan kepedihan.
Seandainya kita mau mengurai sedikit demi sedikit
keterikatan kita pada semua benda-benda kesayangan,
semakin mudah untuk membebaskan diri kita sendiri.
Bukankah yang kita idam-idamkan selama ini adalah
sebuah jiwa yang merdeka?
Kalau kita mau jujur, sebenarnya banyak hal dari diri kita
yang patut kita tertawakan sendiri.
Sebagai misal: ketika kendaraan kesayangan kita tergores
dan catnya mengelupas, kita jadi sedih dan kecewa.
Semakin dalam kecintaan kita pada kendaraan itu,
semakin dalam kesedihan dan kekecewaan kita.
Ini juga terjadi ketika benda-benda kesayangan kita
yang lain, seperti barang pecah belah, perhiasan atau
barang koleksi yang selama ini kita rawat baik-baik,
ternyata pecah, kusam atau rusak begitu saja.
Kita dapati diri ini jatuh dalam kenelangsaan.
Padahal benda-benda itu sama sekali tak merasakan apa-apa,
justru kita yang harus bersakit-sakit.
Bukankah ini menarik untuk kita tertawakan sendiri?
Semua ini terjadi karena kita meletakkan "diri" kita;
kita mengidentifikasikan "aku" kita pada benda-benda
kesayangan itu. Tanpa sadar kita menganggap benda-benda
itu sebagai diri kita sendiri.
Semakin banyak kita mencintai benda-benda,
semakin terjerat kita pada benda-benda itu,
semakin besar kemungkinan kita mengalami luka
dan kepedihan.
Seandainya kita mau mengurai sedikit demi sedikit
keterikatan kita pada semua benda-benda kesayangan,
semakin mudah untuk membebaskan diri kita sendiri.
Bukankah yang kita idam-idamkan selama ini adalah
sebuah jiwa yang merdeka?
mempererat Hubungan
Hubungan yang baik tidak datang begitu saja, melainkan harus dibina. Ada 7 pilihan
yang tidak hanya berguna memperbaiki hubungan, tetapi sekalgus membuat hubungan
menjadi lebih harmonis.
1. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri
Ini pilihan terpenting yang dapat Anda ambil untuk memperbaiki hubungan. Anda
belajar bagaimana bertanggung jawab atas kebutuhan dan perasaan diri sendiri, bukan
menuntut pasangan untuk membahagiakan dan membuat rasa aman terhadap diri Anda.
2. Kebaikan hati, simpati, dan dukungan
Perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Ini inti dari kehidupan
spiritual yang mendalam. Semua orang ingin diperlakukan dengan penuh kasih, baik,
dimengerti, dan didukung. Kita perlu memperlakukan pasangan serta orang lain dengan
cara ini.
Suatu hubungan berkembang dengan baik bila masing-masing pihak memperlakukan
pasangannya dengan baik. Pada umumnya, perlakuan baik seseorang terhadap orang lain
akan dibalas dengan perlakuan yang baik juga. Tapi ingat, kebaikan kepada orang lain
tidak berarti harus mengorbankan diri sendiri. Perlu disadari, bertanggung jawab
terhadap diri sendiri merupakan sikap yang paling penting yang harus dilakukan,
bukan menyalahkan orang lain.
Bila Anda bersikap baik terhadap diri sendiri dan pada pasangan tetapi pasangan
marah dan tidak peduli pada Anda, maka pilihan Anda adalah menerima hubungan yang
demikian atau meninggalkan hubungan tersebut. Anda tidak dapat mengubah pasangan
kecuali diri Anda yang berubah.
3. Belajar untuk tak menguasai
Bila terjadi konflik, ada dua pilihan untuk menguasainya: membuka diri dengan
bersedia belajar tentang diri Anda berdua dan menemukan masalah yang lebih dalam
dari konflik yang terjadi. Pilihan kedua, mencoba menang (atau paling tidak tak
kalah) melalui beberapa bentuk prilaku memperlihatkan kekuasaan.
Banyak orang merasa perlu mengendalikan orang lain. Semua cara yang kita coba untuk
mengendalikan orang lain justru akan menciptakan lebih banyak konflik. Kita harus
sadar, cara ini bukan merupakan cara yang baik dalam membina dan memperbaiki suatu
hubungan. Justru dengan belajar mengendalikan diri sendiri, kita akan dapat
memperbaiki hubungan.
4. Luangkan waktu untuk berdua
Saat pertama kali jatuh cinta, orang akan selalu menyediakan waktu untuk
pasangannya. Sesudah menikah, masing-masing sibuk dengan urusannya. Hubungan jadi
terancam. Kedua pihak seharusnya menyadari, sangat penting untuk menyediakan waktu
bagi pasangannya untuk mengobrol, bermain dan berhubungan intim. Kedekatan tidak
dapat dipertahnkan tanpa usaha dari kedua belah pihak.
5. Bersyukur bukan mengeluh
Rasa bersyukur akan mengalirkan energi positif ke masing-masing pasangannya bila
keduanya memiliki perasaan bersukur. Mengeluh terus-menerus menciptakan energi
negatif yang menimbulkan suasana tidak nyaman. Mengeluh menciptakan stres, sementara
bersyukur menciptakan kedamaian.Terutama kedamaian di dalam diri. Oleh karena itu,
bersyukur menciptakan tidak hanya hubungan dan emosi yang sehat, tetapi juga fisik
yang sehat.
6. Humor
Kita semua tahu, bekerja terlalu serius membuat orang jenuh. Bekerja tanpa bercanda
menimbulkan hubungan yang membosankan. Hubungan berkembang bila kedua pasangan bisa
tertawa bersama, bercanda bersama, dan humor menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari.
Hentikan sikap yang terlalu serius dan coba belajar melihat kehidupan dari sisi yang
lucu. Kedekatan berkembang bila diselingi dengan hal-hal yang ringan dan kedekatan
tidak dapat tercipta bila segala sesuatu dipandang dari sisi yang berat serta sulit.
7. Melayani
Cara yang hebat untuk menciptakan kedekatan adalah dengan saling melayani. Saling
memberi dan mengisi, akan memberikan kepuasan yang mendalam di dalam jiwa. Sikap
melayani membuat Anda untuk tidak egois dan membawa keluar dari masalah yang
dialami,serta lebih memberikan ukungan spiritual dalam kehidupan.
Percayalah, jika Anda dan pasangan setuju dengan ketujuh pilihan di atas dan
bersedia mempraktikkannya Anda berdua akan kagum melihat perbaikan yang terjadi di
dalam hubungan Anda berdua.
yang tidak hanya berguna memperbaiki hubungan, tetapi sekalgus membuat hubungan
menjadi lebih harmonis.
1. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri
Ini pilihan terpenting yang dapat Anda ambil untuk memperbaiki hubungan. Anda
belajar bagaimana bertanggung jawab atas kebutuhan dan perasaan diri sendiri, bukan
menuntut pasangan untuk membahagiakan dan membuat rasa aman terhadap diri Anda.
2. Kebaikan hati, simpati, dan dukungan
Perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Ini inti dari kehidupan
spiritual yang mendalam. Semua orang ingin diperlakukan dengan penuh kasih, baik,
dimengerti, dan didukung. Kita perlu memperlakukan pasangan serta orang lain dengan
cara ini.
Suatu hubungan berkembang dengan baik bila masing-masing pihak memperlakukan
pasangannya dengan baik. Pada umumnya, perlakuan baik seseorang terhadap orang lain
akan dibalas dengan perlakuan yang baik juga. Tapi ingat, kebaikan kepada orang lain
tidak berarti harus mengorbankan diri sendiri. Perlu disadari, bertanggung jawab
terhadap diri sendiri merupakan sikap yang paling penting yang harus dilakukan,
bukan menyalahkan orang lain.
Bila Anda bersikap baik terhadap diri sendiri dan pada pasangan tetapi pasangan
marah dan tidak peduli pada Anda, maka pilihan Anda adalah menerima hubungan yang
demikian atau meninggalkan hubungan tersebut. Anda tidak dapat mengubah pasangan
kecuali diri Anda yang berubah.
3. Belajar untuk tak menguasai
Bila terjadi konflik, ada dua pilihan untuk menguasainya: membuka diri dengan
bersedia belajar tentang diri Anda berdua dan menemukan masalah yang lebih dalam
dari konflik yang terjadi. Pilihan kedua, mencoba menang (atau paling tidak tak
kalah) melalui beberapa bentuk prilaku memperlihatkan kekuasaan.
Banyak orang merasa perlu mengendalikan orang lain. Semua cara yang kita coba untuk
mengendalikan orang lain justru akan menciptakan lebih banyak konflik. Kita harus
sadar, cara ini bukan merupakan cara yang baik dalam membina dan memperbaiki suatu
hubungan. Justru dengan belajar mengendalikan diri sendiri, kita akan dapat
memperbaiki hubungan.
4. Luangkan waktu untuk berdua
Saat pertama kali jatuh cinta, orang akan selalu menyediakan waktu untuk
pasangannya. Sesudah menikah, masing-masing sibuk dengan urusannya. Hubungan jadi
terancam. Kedua pihak seharusnya menyadari, sangat penting untuk menyediakan waktu
bagi pasangannya untuk mengobrol, bermain dan berhubungan intim. Kedekatan tidak
dapat dipertahnkan tanpa usaha dari kedua belah pihak.
5. Bersyukur bukan mengeluh
Rasa bersyukur akan mengalirkan energi positif ke masing-masing pasangannya bila
keduanya memiliki perasaan bersukur. Mengeluh terus-menerus menciptakan energi
negatif yang menimbulkan suasana tidak nyaman. Mengeluh menciptakan stres, sementara
bersyukur menciptakan kedamaian.Terutama kedamaian di dalam diri. Oleh karena itu,
bersyukur menciptakan tidak hanya hubungan dan emosi yang sehat, tetapi juga fisik
yang sehat.
6. Humor
Kita semua tahu, bekerja terlalu serius membuat orang jenuh. Bekerja tanpa bercanda
menimbulkan hubungan yang membosankan. Hubungan berkembang bila kedua pasangan bisa
tertawa bersama, bercanda bersama, dan humor menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari.
Hentikan sikap yang terlalu serius dan coba belajar melihat kehidupan dari sisi yang
lucu. Kedekatan berkembang bila diselingi dengan hal-hal yang ringan dan kedekatan
tidak dapat tercipta bila segala sesuatu dipandang dari sisi yang berat serta sulit.
7. Melayani
Cara yang hebat untuk menciptakan kedekatan adalah dengan saling melayani. Saling
memberi dan mengisi, akan memberikan kepuasan yang mendalam di dalam jiwa. Sikap
melayani membuat Anda untuk tidak egois dan membawa keluar dari masalah yang
dialami,serta lebih memberikan ukungan spiritual dalam kehidupan.
Percayalah, jika Anda dan pasangan setuju dengan ketujuh pilihan di atas dan
bersedia mempraktikkannya Anda berdua akan kagum melihat perbaikan yang terjadi di
dalam hubungan Anda berdua.
Langganan:
Postingan (Atom)
